Senin, 02 April 2012

ANALISIS STRUKTUR INTRINSIK CERPEN “PELAJARAN MENGARANG” KARYA SENO GUMIRA AJI DARMA


ANALISIS STRUKTUR INTRINSIK CERPEN “PELAJARAN MENGARANG” KARYA  SENO GUMIRA AJI DARMA
Oleh
Inong Elistia, NIM 54445

A.   Pendahuluan
1.    Latar Belakang Masalah
Membaca cerpen “Pelajaran Mengarang” karya Seno Gumira Ajidrama. Dalam cerita ini pengarang membicarakan mengenai seorang anak yang bernama Sandra yang memiliki Mama seorang pelacur.Dalam pelajaran mengarang di kelas Sandra mengalami kesulitan karena tidak tahu harus membuat karangan tentang apa. Karena judul yang di berikan Bu Guru Tati tidak ada yang sesuai dengan pengalamannya . Sandrapun merasa hidupnya berbeda dengan teman-temannya yang dengan sangat mudah mengarang karena mereka hanya menceritakan kembali pengalamannya yang benar-benar terjadi sedangakan sandra harus benar-benar mengarang.
Sebagai seorang yang tinggal di kota pergaulan malam Mama Sandra sangat kelam Selain keluarga yang Broken Home dia juga tidak memil;iki nenek. Yang ada dalam benakknya mengenai sosok nenek hanyalah seorang yang sudah tua. Berdandan selalu menor dan di panggil Mami oleh Marti Mama Sandra. Jadi dalam cerpen ini tokoh utama memiliki konflik batin yang menyebabkan dia membenci pelajaran mengarang ini.
Selain itu Sandra juga tidak memiliki kehidupan seperti anak-anak pada umumnya karena setiap malam Sandra harus membereskan muntah ibunya.
Pada awal cerita ini sandra juga mengalami kesulitan dalam mengarang namun krena dikejar waktu dan telah banyak teman-teman Sandra yang telah mengumpulkan dengan sangat terpaksa Sandra hanya membuat satu kata yang awalnya hanya Ibu. Sandra pun terpaksa membuka aibnya sendiri denagn menulis sebuah kalimat  yang sebetulnya kalau bagi kita sangat memalukan yaitu Ibuku seorang pelacur  .
Keberhasilan cerpen ini menggambarkan realitas sosial masyarakat yang menggambarkan kehidupan masyaraka di sebuah kota yang penuh dengan derita kalau mau hidup ya harus bekerja. Walaupun Marti seorang pelacur namun dia tidak mau anaknya sepertinya seorang pelacur. Marti tetap menyekolahkan Sandra, membawanya ke taman bermain,membacakannya dongeng hanya saja kurang perhatian terhadap anak sendiri. Walaupun marti pelacur dia tetap merawat dan menyayangi sandra.

2.    Pembatasan Masalah dan Rumusan Masalah
Penelitian ini mempermasalahkan karya sastra dari segi sosial keseharian masyarakat., karena cakupan sosialnya sangat luas, maka perlu dibatsi ruang lingkupnya karena itu penelitian masalah ini dibatsi oleh masalah-masalah:
(1)  Bagaimanakah perilaku dan tindakan para tokoh dalam  cerpen “Pelajaran Mengarang”.
(2)  Bagaimana alur, fungsi,tokoh dalam pelajaran mengarang
(3)  Bagaimana latar, pengisahan, interpretasi,kesimpulan dan saran
Dengan demikian rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimanakah bentuk-bentuk penyimpangan yang terdapat dalam cerpen “Pelajaran Mengarang” ditinjau dari latar belakang yang menyebabkan terjadinya penyimpangan tersebut.
3.    Tujuan Analitis
Berdasakan latar belakang, penelitian ini bertujuan 1) mendeskripsikan prilaku prilaku dan tindakan para tokoh dalam cerpen “Pelajaran mengarang” ditinjau dari Sandra yang membuat Sandra tidak bisa mengarang karena harus benar-benar menagrang, 2) serta  apa-apa saja yang membuat Sandra tidak bisa mengarang.
4.    Manfaat Analitis
Penelitian ini hasilnya bermanfaat untuk:
1.    Peminat, pembaca dan peneliti sastra Indonesia secra umum untuk mengetahui cerpenIndonesia modern dan secra khusus cerpen “Pelajaran Mengarang”.
2.    Menjembatani pembaca pengarang, yaitu meningkatkan apresiasi.
3.    Menambah wawasan guru-guru untuk pelajaran sekolah lanjutan.

B.   Pembahasan
1.    Sinopsis Cerpen “Pelajaran Mengarang” Karya Seno gumira Ajidarma
Cerpen ini diawali oleh seorang anak kelas 5 SD yang bernama Sandra. Dia memiliki keluarga yang broken Home dengan Ibu kandungnya sendiri berstatus sebagai Pelacur. Hal tersebut yang membuat Sandra kesulitan dalam Pelajaran Mengarang yang diberikan oleh Ibu guru Tati. Karena kenyataannya, judul yang diberikan tidak sesuai dengan kenyataan yang dialami Sandra.
Lima belas menit pelajaran Sandra masih memikirkan apa yang harus dibuatnya. Dia teringat akan sebuah judul Liburan ke rumah Nenek. Namun, yang ada dalam bayangannya hanyalah sebuah ruangan gelap, banyak wanita, dan dan ada wanita dan pria yang berpelukan sampai lengket. Itulah tempat si Mami, yang dianggap oleh Sandra sebagai neneknya. Orang tua yang menor.
Sandra pun kembali termenung yang teringat olehnya hanyalah rumah dengan botol yang selalu berserakan dimana-mana. Setiap pulang kerja ibunya selalu mabuk dan dan saat itulah Sandra dimarahi oleh ibunya. Sandra tahu bahwa ibunya sangat menyayanginya. Jika libur, Sandra selalu di bawa ke taman bermain, dan sebelum tidur dibacakan dongeng, dan setiap akan tidur ibunya selalu mencium keningnya. Satu hal yang selalu di ingat oleh Sandra, saat pager ibunya berbunyi, kalau ibunya sedang berdandan, Sandra di suruh membaca apa isi pesan yang ada di pager tersebut.     
Setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Setelah empat puluh menit berlalu Ibu guru Tati menyuruh menumpulkan hasil karangan.
Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya. Saat itu ibu guru Tati menghampirinyya dan Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Saat tamu ibunya datang, saat itu ia terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang.
Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.
Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah. Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah. Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong: Ibuku seorang pelacur.  
2.     Alur dan Analisis Satuan  Peristiwa dalam Cerpen “Pelajaran  Mengarang”
 Dalam cerpen “Pelajaran Mengarang” alur berjalan mundur dan kemudian maju kembali, satuan peristiwa dalam cerita tetap dapat dipahami karena adanya penanda waktu yang jelas serta keterangan-ketarangan penuturan pengarang yang mendukung. Dalam alur, ada peristiwa yang digambarkan secara umum sebagai lamunan atau imajinasi seorang gadis kecil tentang keluarga yang tak pernah ia miliki secara utuh. Ia terpaksa membayangkannya karena saat itu ia ditugasi gurunya untuk mengarang dengan tema keluarga. Dalam bayangan itulah alur terlihat mundur. Setelah berselang beberapa waktu, lamunan tersebut kembali ke keadaan nyata, dimana tokoh utama tersebut berada di dalam kelas untuk mengarang. Saat itulah alur terlihat maju kembali.
Hal ini dapat dibuktikan melalui kutipan di bawah ini :
“Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah”.
“Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.
Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian

a.    Satuan Peristiwa dalam Cerpen “Pelajaran Mengarang”

1.    Pelajaran mengarang di mulai Ibu Guru Tati memberikan waktu 60 menit. (paragraf 1)
2.    Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”. (paragraf 2)
3.    Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.(paragraf 4)
4.     Sepuluh menit berlalu. Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya.(paragraf 3)
5.    Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang.(paragraf 5)
6.    Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan.(paragraf 6)
7.    Mama Sandra marah.jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara  dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.(paragraf 7)
8.    Lima belas menit  lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”.(paragraf 8)
9.    Sandra  bertanya kepada Mamanya tentang Papanya. Mama Sandra menjawab ada.(paragraf 8)
10. Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek”.(paragraf 9)
11. adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya.(paragraf 9)
12. Sandra kena marah kembali denagn sebutan Setan dari mamanya.(paragraf 10)
13. Sandra dititipkan ke tempat Mami Saat marti berkerja.(paragraf 10)
14. Sandra tidak mengerti kenapa ada wanita di ruang kaca dan di tunjuk oleh laki-laki.(paragraf 11)
15. Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.(paragraf 13)
16. Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik.(paragraf 14)
17. Sandra terbangun malam-malam saat Mamanya menangis sendirian.(paragraf 14)
18.  Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra.(paragraf 15)
19. Marti marah kembali kepada Sandra sambil mengucapkan kata-kata kotor.(paragraf 15)
20. Sandra membersihkan muntahan Mamanya.dan bertanya Mama kerja apa.(paragraf 16)
21. Sandra berfikir kalau wanita itu mencintainya dengan membawanya ke taman bermain.(paragraf 18)
22. Kadang-kadang sebelum tidur Marti membacakan dongeng untuk Sandra.(paragraf 19)
23. Setelah membacakan dongeng marti mencium Sandra, sambil berkata agar Sandra menjadi anak yang baikm-baik.(paragraf 19)
24. Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya,menjadi anak yang patuh namun sikap mama sandra selalu berubah.(paragraf 20)
25. Sandra ingat akan pager mamanya yang selalu berbunyi saat merias diri dimuka cermin.(paragraf 20)
26. Sandra membacakan isi pesan dalam pager mamanya.(paragraf 21)
27. Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari.(paragraf 22)
28. Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat.(paragraf 22)
29. Empat puluh menit lewat sudah. Ibu Guru Tati menyuruh mengumpulkan karangan tersebut.(paragraf 23)
30. Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Ada sebagian anak yang telah mengumpulkan.(paragraf 24)
31. Ibu Guru Tati bertanya kepada Sandra kenapa ketasnya     masih kosong.(paragraf 24)
32. Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi.(paragraf 24)
33. Ia  juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur.(paragraf 25)
34.      Ibu Guru Tati menyuruh mengumpulkan karena waktu habis. Sandra masih belum mempunyai karangan akhirnya dia hanya membuat  Ibuku seorang pelacur…  (paragraf 26)  
          
b.     Analisis Fungsi dalam Cerpen “Pelajaran Mengarang”
            Setiap satuan peristiwa berperan sebagai penyebab atau akibat maupun sekaligus sebagai sebab dan akibat bagian satuan peristiwa lain. Maka berikut ini adalah identifikasi satuan fungsi/satuan hubungan. Peristiwa yang lebih dahulu berfungsi sebagai penyebab, dan satuan peristiwa yang kemudian sebagai akibatnya.
1-2                    21-23
3-2                    23-24
4-5                    26-27
4-6                    28-29
8-10                  30-31
13-14                32-33
19-20                34
            Cara selanjutnya adalah mengubungkan-hubungkan satuan peristiwa sebagai upaya penyusunan berdasarkanlogika rasional dan sebagai berikut.









3.    Analisis Tokoh dalam Cerpen “Pelajaran Mengarang”
Analisis tokoh:
Bu Guru Tati : Masih muda, belum berkeluarga, berkaca mata tebal. Hal ini dapat dibuktikan melalui kutipan di bawah ini.
            “ Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa”.
            “Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya”.
Sandra : berumur 10 tahun, masih sekolah kelas V, penurut kepada orang tua, sensitif. Hal ini dapat dibuktikan pada kutipan dibawah ini.
            “Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci”.
            “.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci”.
            “Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja”.
Marti (mama sandra) : pelacur, pemabuk, kurang perhatian, pemarah, bibir merah. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan di bawah ini.
            “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”

            “Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah”.
            “Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk”.
            “. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …”.
Mami (seseorang yang dianggap nenek oleh sandra) :  Sudah tua, pemarah. Hal ini dapat dibuktikan melalui kutipan di bawah ini.
            “dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.
“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!” Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana”.
4.     Analisis Latar dalam Cerpen “Pelajaran Mengarang”
a. Unsur Latar
            Istilah latar tidak hanya diartikan sebagai latar giografisnya saja tetapi juga faktor-faktor sosial dan historis, waktudan tempat terjadinya, peristiwa dalam plot. Disamping itu unsur-unsur latar meliputi: tempat yang secara giografis aktual, meliputi topografi, pemandangan detail-detail dalam ruangan. Pekerjaan atau eksetensi keseharian tokoh. Waktu dalam gaya mengambil tempat misalnya priode historis, musim, masa, tahunan. Demikianlah hal-hal yang dipedomani  dari latar salah satu pembangunan cerita.
Tempat: latar tempat cerita cerpen ini adalah disebuah kelas, rumah, klub malam tempat kerja mama sandra. Hal ini dapat dibuktikan memlalui kutipan di bawah ini.
            “Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.
            “Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah”.
            “Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton”.
Latar Waktu: Siang Hari : Hal ini dapat dibuktikan saat sandra saat berada di dalam kelas saat pelajaran mengarang berlangsung. Walaupun pengarang tidak mencantum kapan peristiwa tersebut terjadi tapi dalam membaca cerita tersebut kita dapat mengetahui kalu sekolah tersebut di siang hari.
Malam hari: hal ini dapat di buktikan melalui kutipan di bawah ini.
            “Ia  juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata”.
            “Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk”.
Latar sosial, Suasana: saat membaca cerpen “Pelajaran Mengarang” dapat dilihat saat Sandra begitu kesusahan dalam membuat karangan karena Sandra harus benar-benar mengarang. Karena judul yang diberikan oleh Bu Tati itu semua tidak pernah terjadi dalam kehidupannya yang mempunyai ibu seorang pelacur. Hal ini dapat di buktikan melalui kutipan dibawah ini.
            “Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan”.
            “Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah”.
5.    Analisis Pengisahan/Sudut Pandang dalam Cerpen “Pelajaran Mengarang”
            Sudut pandang dan pusat pengisahan yaitu sebagai siapa pengarang dalam cerita. Menurut atmazaki (1990:106) mengatakan “posisi pencerita atau pengisahan dalam karya sastra di bedakan beberapa sudut pandang. Adakalanya pengarang sebagai orang pertama, sebagai orang sampingan, atau sebagai orang ketiga. Pengarang juga dapat tampil dan mengetahui setiap peristiwa yang terjadi dalam cerita. Pengarang juga dapat menceritakan orang lain. Ini dapat dilihat pada cerpen “Pelajaran Mengarang” dalam cerpen ini pengarang menceritakan orang lain. Apat dilihat pada  tokoh Sandra, Ibu Guru Tati, Mami, Marti, dan anak-anak teman sekelas Sandra. Teknik yang dipakai oleh pengarang adalah teknik Dia-an.
            Pengarang sebagai orang ketiga yang serba tahu apa yang dialami oleh para tokoh. Dalam hal ini pengarang lebih fokus terhadap tokoh yang mengalami konflik dalam dirinya. Dalam  Cerpen “Pelajaran Mengarang” lebih fokus ke dalam konflik yang dialami oleh diri tokoh. Sebagai contoh sandra yang mengalami tekana batin dan kejiwaan dalam menghadapi persoalan hidupnya dan di paksa untuk benar-benar mengarang.
Bukan hanya itu saja  Sandra yang menjadi tokh utama dala cerpen ini berada dalam tekanan batin dan kejiwaan dalam mengahdapi kenyataan kalu dalam pelajaran mengarang dia benar-benar harus mengarang. Lain halnya denagn marti Mama Sandra dia adalah seorang pelacur yang palin banyak penggemar. Sedangkan Ayah Sandra tidak tau siapa karena Mamanya seorang pelacur. Walaupun seorang pelacur marti tidak menginginkan anaknya seperti dia makannya di sekolahkan. Hal ini dapat dibuktikan melalui kutipan di bawah ini.
“Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan”.
“Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah”.
Kutipan yang menggambarkan keadaan fsikis marti (Ibu Sanda) dapat dilihat melalui kutipan di bawah ini.
“Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”.
“Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik”.
“Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.
“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”.
Menurut Luxemburg (1989:121) Si juru cerita bertindak sebagai perantara antara dunia fiktif dan dunia pembaca. Dalam Cerpen “Pelajaran Mengarang” kita menemukan hal demikian. Dengan membaca cerpen ini kita dapat tentang kehidupan keluarga sandra melalui penceritaan. Pengarang menceritakan bagaimana Sandra amat kesulitan dalam mengarang yang bagi sebagian orang mengarang itu sangat menyenangkan namun bagi sandra dia benar-benar harus mengarang. Karena keluarganya tidak lengkap dan tidak seperti keluarga lain anak-anak lain yang memiliki keluarga lengkap. Walaupun berat Sandra tetap mengarang dengan membuka aibnya sendiri denngan membuat hanya satu kalimat denagn ibuku seorang pelacur. Hal ini diperkuat melalui kutipan dibawah ini.
“Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah”.


6.    Analisis Tema dan Amanat
Tema yang diangkat adalah kehidupan seorang anak kecil yang memiliki seorang ibu pelacur. Anak seorang pelacur yang tak bisa menyelesaikan tugasnya, tugas mengarangnya yang berhubungan dengan keluarga yang tak pernah ia miliki seperti anak seumuran dengannya. kesimpulannya, tema cerpen Pelajaran Mengarang adalah diskriminasi perlakuan sosial. Karena anak yang seharusnya menikmati masa kecil denagn bahagia harus mengurusi muntah ibunya ,kaleng dan botol minuman bekas ibunya setelah menerima tamunya dirumah. Hal ini dapat dibuktikan melalui kutipan di bawah ini adalah sebagai berikut :
“Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci”.
“Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan”.
“Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah”.
            Amanat yang dapat diambil dalam cerpen “Pelajaran Mengarang ini adalah 1) kita bisa belajar menjadi sabar atas apapun situasi kita, 2) bagaimana pun orang tua kita kita harus tetap hormat kepadanya, 3)janganlah menyebut perkataan kotor di depan anak, 4)sebagai guru kita harus memberikan kebebasan kepada seseorang untuk menentukan judul apa yang akan menjadi judul karangannya, 5)sebagai seorang guru juga harus bisa mengayomi murid bukan hanya mengajar saja.
6. Interpretasi
Berdasarkan analisis masing-masing unsur dalam pembahasan sebelumnya, maka dapat di interpretasi mulai dari alur/pengaluran, penokohan, latar, sudut pandang, gaya bahasa, tema dan amanat yang akan di simpulkan sebagai berikut.
Pertama, alur yang terdapat dalam cerpen ini secara keseluruhan terdiri 34 sekuen. Alur yang digunakan yaitu alur campuran, di mana tokoh langsung berdialog, kemudian kembali dan merenung dan berpikir kembali kesimpulan yang diperolehnya tentang “pelajaran Mengarang” Kedua, analisis tokoh/karakter dijumpai bahwa tokoh utama yaitu Sandra  di mana memiliki keterlibatan dominan dari awal penceritaan hingga akhir. Sementara tokoh Marti dan Ibu Guru Tati, Mami berfungsi sebagai tokoh tambahan. Penokohan yang memusatkan kepada protagonis adalah Marti dan antagonis adalah Sandra,  Ibu Guru Tati
Untuk tokoh statis-dinamis, rata-rata tokoh mempunyai kedudukan statis sesuai pengarang menggunakan tempat di atas rumah, sekolah, klub malam. Sementara latar waktu tidak dijelaskan karena cerpen ini di terbitkan pada tahun 1993 KOMPAS.
Keempat, dalam analisis pusat pengisahan/suduut pandang secara umum pengarang menyajikan teknik penceritaan dia-an dimana Sandra berperan sebagai tokoh utama . Terakhir, untuk tema dan amanat dalam cerpen ini dapat diketahui bahwa tema dari cerpen “Pelajaran Mengarang” yaitu kisah tentang seorang anak bernama Sandra anak seorang pelacur yang tidak memiliki keluarga yang utuh karena tidak mempunyai ayah. Dalam pelajaran mengarang yang diberikan Bu Guru Tati Sandra mengalami kesulitan karena dia harus benar-benar mengarang. Judul yang di berikan bu guru tati sangat berbeda dengan realita kehidupannya yang serba kelam karena setiap hari dia harus membersihkan muntahan ibunya sehabis pulang ibunya bekerja. Berbeda dengan anak-anak lain yang hidup serba indah dan hanya menceritakan kembali cerita perjalanan mereka. Hal ini dapat dibuktikan di bawah ini.
1) Latar Belakang Permasalahan
            Awal cerita dalam cerpen ini adalah saat Ibu Guru Tati memulai pelajran mengarang namun sandra tidak bisa mengarang karena dia harus benar;benar mengarang. Hal ini dapat di buktikan melalui kutipan di bawah ini.

“Pelajaran mengarang sudah dimulai.
“Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.
“Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.
“Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa”.
“Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci”.
 2) Permasalahan Utama
            Saat pelajaran mengarang tersebut Sandra kesulitan dengan semua judul yang diberikan Ibu Guru Tati. Yang kenyataanya sandra tak seperti teman- mempunyai keluarga yang utuh. Hal ini dapat dibuktikan  dalam kutipan dibawah ini.saat  mulai mengarang dan sandra tidak tahu harus memulai dari mana.
“Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra”.
“Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah”.
            Hal ini terjadi saat sanrdra memikirkan tulisan apa yang akan di buatnya. Hal ini dapt dibuktikan melalui kutipan dibawah ini.
            “Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi”
3). Jalan Keluar masalah
            Karena tidak tau ingin meulis apa maka Sandra menulis satu kalimat saja. Hal ini dapat dibuktikan melalui kutipan di bawah ini.
            “Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong”.
Ibuku seorang pelacur…   
C. Penutup
1. Kesimpulan
 Dalam cerpen “Pelajaran Mengarang” cerpen ini merupakan karya naratif dengan mengandalkan kekuatan imajinasi dalam proses penciptaannya. Sebagai karya rekaan, cerpen mempunyai sturktur dalam (struktur intrinsik) yang terdiri atas alur atau plot, latar atau setting, penokohan, sudut pandang, dan gaya bahasa. Tema dan amanat juga demikian, karena permasalahan ini yang hendak dikemukakan pengarang. Dalam cerpen biasanya hanya ditemukan satu kesatuan permasalahan, seperti di mulai dari sebab, masalah dan akibat. Oleh sebab itu, pada pembahasan kali ini akan di ulas struktur dalam (unsur intrinsik) dalam sebuah cerpen di mulai dari alur/ pengaluran, penokohan, latar/ setting, penydutpandangan, gaya bahasa, tema dan terakhir yaitu amanat.
            Dalam cerpen “Pelajaran Mengarang” kesimpulan yang dapat kita ambil adalah sebagai Guru bukan hanya sebagai mengajar saja tetapi sebagai pengayom dan kita juga harus mengetahui kondisi siswa kita. Karena kehidupan setiap siswa  tidak sama dengan kehidupan siswa lainnya. Sama halnya dengan Sandra dari keluarga yang Broken Home tidak mempunyai ayah dan mempunyai kehidupan yang serba aneh baginya.
Hal ini disebabkan sebagai anak kecil dia seharusnya tidak mengetahui segala urusan yang membuat dia merasa berbeda dari orang lain. Seperti halnya anak-anak lain Sandra juga butuh perhatian penuh. Dalam Cerpen ini pengarang juga bisa mengajak pembaca masik kedalam ceritanya. Dengan cerita yang dapat di mengerti, logis sehingga kita sebagai pembaca dapat mengerti pesan apa yang disampaikan dan simpati kepada sandra.
2. Saran
            Sebaiknya para calon guru, orang tua, remaja maupun para maupun para orang tua setidaknya membaca cerpen ini karena cerpen ini dapat membuat kita memehami ada keluarga yang lebih menderita dan lebih menderita. Dari Cerpen ini kita juga dapat mengetahui sisi Psikologis anak-anak yang berasal dari keluarga Broken home.



Daftar Rujukan
Atmazaki. 1990. Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Padang: Angkasa Raya.
Luxemburg. Dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.
Muhardi dan Hasanuddin. 1992. Prosedur Analisis Fiksi. Padang: IKIP Padang Press



.
Cerpen “Pelajaran Mengarang” Karya Seno Gumira Ajidarma
Pelajaran mengarang sudah dimulai.
“Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.
Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.
Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.
Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.
Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.
Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.
“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara  dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.
***
Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.
“Mama, apakah Sandra punya Papa?”
“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”
Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.
Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.
“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.
Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.
“Anak siapa itu?”
“Marti.”
“Bapaknya?”
“Mana aku tahu!”
Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka.
“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.
***
Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.
Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.
“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”
Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.
“Mama kerja apa, sih?”
Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.
Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seperti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra …”
Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.
“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”
Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …
Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri dimuka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.
DITUNGGU DI MANDARIN
KAMAR: 505, PKL 20.00
Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah , ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.
***
Empat puluh menit lewat sudah.
“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.
Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang terlalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.
Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.
“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.
Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.
Ia  juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.
“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.
Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah. Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:
Ibuku seorang pelacur…   
Palmerah, 30 November 1991
*) Dimuat di harian Kompas, 5 Januari 1992.  Terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1993.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar