Senin, 02 April 2012

Seluk Beluk Pengajaran KBK Novel


LAPORAN BACAAN

PENGAJARAN APRESIASI SASTRA

“SELUK BELUK PENGAJARAN KBK NOVEL”




Oleh Kelompok 10:
Lisa Martantia           96367/2009
Inong Elistia               54445/2010
Firmansyah                18131/2010    
Prodi. Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah



JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS BAHASA SASTRA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012

SELUK BELUK PENGAJARAN KBK NOVEL
A.       Efikasi Pengajaran Novel sebagai Fiksi
Efikasi berarti kemujaraban. Efikasi pengajaran fiksi berhubungan dengan pengaruh kemujaraban fiksi bagi subjek didik. Fiksi adalah bentuk sastra yang seakan-akan melukiskan peristiwa atau kisahsesungguhnya. Fiksi tergolong karya prosa yang bersifat imajinatif.
Fiksi biasanya terdiri dari novel, cerpen,dongeng,dan roman. Cerita fiksi yang dikemas manis, seolah-olah akan mencerminkan kehidupan nyata, sehingga bila dijadikan sebagai bahan pelajaran akan semakin menarik. Harapan demikian akan menjadi kenyataan, apabila pengajaran mengajak subjek didik untuk membacadan menikmati.
Cepat atau lambat keberhasilan pengajaran fiksi tentu akan membawa dampak positif terhadap kehidupan subjek didik. Sayuti (1994: 5) mengatakan karya sastra bersifat evokatif dan sugestif. Karya sastra evokatif akan mampu memberikan daya gugah agar manusia (yang menghayati) semakin sadar akan eksistensinya sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap kehidupan, dan karya sastra bersifat sugestif akan lebih memiliki potensi untuk memberikan daya saran alternatif.
Pengajaran fiksi yang sampai menyentuh ke daya efikasi, tentu akan sangat efektif membentuk pribadi subjek didik. Dengan demikian, dapat ditarik kejelasan bahwa pengajaran fiksin yang berhasil akan mendapatkan daya:
1.      Antisipatif, mampu dan tanggap (tanggap sasmita) untuk mengontrol, meneropong, mengarahkan kehidupan yang mengejala ke luar rel.
2.      Filter, akan menyaring terhadap moralitas subjek didik, kepribadian, dan budaya bangsa pada umumnya.
3.      Benteng pertahanan, sebagai tanggul baja terhadap penyimpangan- penyimpangannorma kehidupan (Endraswara, 1998:53)




B.  Strategi Baru Pengajaran KBK Novel
1.    Mentradisikan Membaca Novel
Selama ini, pengajaran novel memang dipandang terlalu ketat bagi subjek didik dan pengajarnya. Alasannya adalah (1) tidak tersedianya cukup waktu di sekolah untuk membaca novel sampai tuntas, (2) di sekolah tidak tersedia aneka judul novel yang layak sebagai pilihan, dan (3) hampir setiap novel yang dipandangberkualitas relatif tebal.
Tugas seorang pengajar novel memang sedikit berbeda dengan pengajaranfiksi lain, cerpen misalnya. Apalagi, novel merupakan karya yang tebal dan tentu akan menyedot dana yang relatif banyak, tentu harus hati-hati untuk menuju pengajaran yang efektif dan efisien. Yang harus dilakukan seorang pengajar novel adalah:
1.      Mendorong subjek didik agar berminat dan tekun membaca, memilih sendiri novel yang disukai, dan membuat sinopsis sendiri.
2.      Menghindari subjek didik hanya membaca sinopsis novel dari orang lain.
3.      Memberikan contoh cara membaca novel yang baik.
4.      Membaca novel sebaiknya diarahkan sebagai tugas rumah secara individual, dari tugas tersebut selanjutnya dibicarakan dan dididkusikan dalam kelompok kecil.
5.      Setiap kelas dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing dapat membaca novel yang berbeda, seterusnya diadakam diskusi.
6.      Setiap semester diadakan lomba membaca sinopsis novel.
7.      Setiap diadakan lomba sebaiknya yang dilombakan lebih dari lima judul novel untuk mengevaluasi sedikit-banyaknya subjek didik membaca novel.
Dari tugas-tugas pengajar tersebut, tampak sekali bahwa membaca novel adalah suatu keharusan bagi subjek didik. Subjek didik seyogyanya terus-menerus didorong, diberikan sugesti, dan diberi peluang untuk membaca. Tradisi membaca novel ini harus dibudayakan sejak awal masuk sekolah, agar tiodak menemukan kesulitan dikemudian hari. Karena, novel tergolong karya tebal yang tidak bisa dibaca sekali duduk.membaca novel perlu konsentrasi, meskipun ada novel yang layak untuk selingan. Karena, itu pengajar harus jeli dalam mengarahkan subjek didik untuk membaca novel.
2.    Seleksi Novel
Pengajar sastra, kadang-kadang merasa sulit menentukan novel mana yang relevan diajarkan. Dalam jagad sastra Indonesia, terlalu banyak terbitan novel yang mengalir deras. Mulai dari novel serius, sampai novel hiburan.
Yang penting dalam pengajaran sastra, termasuk novel, kalau berpijak pada asumsi Rodrigues dan badaczweski (1978:93) ada pepatah yang berbunyi “you can lead a horse to waterbut can’t make him drink”. Pepatah ini mengibaratkan bahwa pangajar boleh saja mengasumsikan subjek didik sebagai “Kuda” dan novel seperti “air”. Kita boleh saja mengajak subjek didik agar membaca sejumlah novel, namun mau tidaknya subjek didik menikmati tergantung interes subjek didik. Pengajar tak dapat memaksa subjek didik harus membaca novel tertentu, melainkan hanya boleh memberikan rambu-rambu dengan iklim kebebasan.
Hampir semua orang memahami, kalau sistem pengajaran novel di sekolah hampir dilakukan dengan sistem top down. Subjek didik sudah diberi barang jadi, telah dipilih oleh penulis buku, oleh perancang kurikulum,dan juga oleh pengajarnya. Jarang sekali ada sekolah yang mampu melanggar dari sistem yang telah diatur dan tertata rapi itu, kalau tidak mau subjek didiknya kalang kabut dalam menjawab soal-soal ujian.
Zulfahnur (1989:165) menyatakan, tugas pengajar sastra antara lain menyeleksi novel sebagai bahan ajar. Tugas ini, tentu harus dipahami sebagai upaya untuk menentukan beberapa novel alternatif yang akan menjadi pilihan subjek didik. Tugas demikianlah, bukanlah mutlak dan harga mati. Karena itu, tugas yang diemban dipandang sebagai pelayan saja, untuk meneleksi novel mana saja yang layak dibaca oleh subjek didik pada tingkat tertentu.
Persoalan yang mungkin hadir, dari tugas ini antara lain:
1.      Pengajar sering mengandalkan novel tertentu sesukanya atau menurut seleranya.
2.      Pengajar belum tentu memiliki koleksi novel yang cukup.
3.      Pengajar yang kurang menguasai kriteria seleksi novel, juga akan menyesatkan.
Seleksi novel memang menjadi ujung tombak keberhasilan pengajaran. Hal ini ditegaskan Moody (1971:44), jika seleksi novel dilakukan secara baik dan mendalam dengan penuh khayalan, bentuk sastra ini akan dapat mengembangkan minat dan ketaatan subjek didik dalam membaca novel, dan selanjutnya mereka akan mau membaca novel secara pribadi.
Secara garis besar, untuk memilih novel perlu memperhatikan dua hal, yaitu kevalidan dan kesesuaian. Kevalidan berhubungan dengan kriteria dari aspek-aspek kesastraan, sedangkan kesesuaian berkaitan dengan subjek didik sebagai konsumen novel dan proses pengajaran novel. Kevalidan, meliputi berbagai hal, antara lain novel harus benar-benar teruji sehingga ditemukan good novel. Untuk itu penyeleksi dapat menerapkan kriteria: (1) mencari novel yang memuat nilai pedagogis, (2) novel yang mengandung nilai estetis, dan (3) novel yang mudah dijangkau.
Valid tidaknya sebuah novel, perlu memperhatikan konteks bentuk dan isi. Karenanya, seleksi novel perlu memperhatikan kejelasan tema, alur, bahasa, watak, latar, dan pusat pengisahan. Menurut Wardani (1981:35) perlu pula memperhatikan lukisan peristiwa, lukisan perasaan, diksi, susunan kalimat, dan urutan peristiwa (alur).
Dalam kaitannya dengan isi, Rodrigues dan Badaczewski (1978:91) novel yang dipilih sebagai bahan ajar adalah:
a.       Novel yang dapat membantu subjek didik ke arah pemahaman tingkah laku diri sendiri maupun orang lain.
b.      Novel yang dapat membantu subjek didik dalam mengisi nilai-nilai estetis dalam hidupnya.
c.       Novel yang dapat membantu subjek didik untuk mengidentifikasi tingkah lakunya.
d.      Novel yang menawarkan pemahaman terhadap tingkah laku manusia.
Dalam hal isi, pengajar satra hendaknya juga mampu memilih novel yang menggambarkan kehidupan manusia agar menjadi manusia yang sempurna, dan memiliki jiwa kemanusiaan sejati, mengenal nilai-nilai hakiki, dan mendapatkan ide-ide baru (Semi,1993:153).
Dalam kaitan dengan novel yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan, Levine (1974:11-13) berpandangan bahwa, novel yang diajarkanhendaknya dapat bdipahami secara keseluruhan dan bukanlah novel yang menyesatkan. Istilah lain dari novel demikian adalah “realisme”, novel yang menggambarkan dunia nyata kehidupan manusia. Ciri-ciri novel realistik, menurut Levine ada enam hal, yaitu: (1) menghadirkan plenampilan pengalaman secara rinci, (2) menyuguhkan tokoh-tokoh halnya dalam kehidupan sosial, (3) menghadirkan lingkungan sosial dan saling pengaruh-mempengaruhi antara tokoh dan masyarakat, (4) kadang-kadang menghadirkan pikiran tokoh secara detail, (5) menampilkan tokoh yang tidak sederhana, melainkan tokoh yang kompleks, dan (6) lukisan tokoh simbolik atau alegori boleh-boleh saja.
Kesesuaian, dapat ditempuh melalui kriteria: (a) bahasanya tidak terlalu sulit diikuti subjek didik, (b) sejalan dengan lingkungan sosial budaya subjek didik, (c) sesuai dengan umu, minat, dan perkembangan kejiwaan, dan (d) memupuk rasa keingin tahuan.
C.  Penyajian KBK Novel: Model Gordon
Model Gordon menekankan pada keaktifan dan kreatif subjek didik yang dikenal dengan CBSAK (cara belajar siswa aktif kreatif). Dalam proses sinektik diperlukan keterlibatan emosional subjek didik. Model Gordon mengenal tiga teknik, yaitu:
1.      Analogi personal
Subjek didik diajak mengidentifikasi unsur-unsur masalah yang ada dalam novel.
2.      Analogi langsung
Dalam hal ini masalah yang telah diidentifikasi pada tahap analogi personal mulai disejajarkan dengan lingkungan sosial budaya subjek didik.
3.      Konflik kempaan
Yaitu mempertajam pandangandan pendapat pada posisi masing-masing, terutama dalam menghadapi dua atau tiga pandangan yang berbeda, sehingga subjek didik memahami objek dan penalaran dari bdua atau tiga kerangka berpikir.

sosiologi sastra sebagai pendekatan menganalisis karya sastra


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah

Sosiologi sastra merupakan pendekatan yang bertolak dari orientasi kepada semesta, namun bisa juga bertolak dari orientasi kepada pengarang dan pembaca. Menurut pendekatan sosiologi sastra, karya sastra dilihat hubungannya dengan kenyataan, sejauh mana karya sastra itu mencerminkan kenyataan. Kenyataan di sini mengandung arti yang cukup luas, yakni segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. Demikianlah, pendekatan sosiologi sastra menaruh perhatian pada aspek dokumenter sastra, dengan landasan suatu pandangan bahwa sastra merupakan gambaran atau potret fenomena sosial. Pada hakikatnya, fenomena sosial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasikan. Oleh pengarang, fenomena itu diangkat kembali menjadi wacana baru dengan proses kreatif (pengamatan, analisis, interpretasi, refleksi, imajinasi, evaluasi, dan sebagainya) dalam bentuk karya sastra.
Sastra menyajikan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat dengan orang-orang, antarmanusia, antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Maka, memandang karya sastra sebagai penggambaran dunia dan kehidupan manusia, kriteria utama yang dikenakan pada karya sastra adalah "kebenaran" penggambaran, atau yang hendak digambarkan. Namun Wellek dan Warren mengingatkan, bahwa karya sastra memang mengekspresikan kehidupan, tetapi keliru kalau dianggap mengekspresikan selengkap-lengkapnya. Hal ini disebabkan fenomena kehidupan sosial yang terdapat dalam karya sastra tersebut kadang tidak disengaja dituliskan oleh pengarang, atau karena hakikat karya sastra itu sendiri yang tidak pernah langsung mengungkapkan fenomena sosial, tetapi secara tidak langsung, yang mungkin pengarangnya sendiri tidak tahu. Pengarang merupakan anggota yang hidup dan berhubungan dengan orang- orang yang berada disekitarnya, maka dalam proses penciptaan karya sastra seorang pengarang tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya. Oleh karena itu, karya sastra yang lahir ditengah-tengah masyarakat merupakan hasil pengungkapan jiwa pengarang tentang kehidupan, peristiwa, serta pengalaman hidup yang telah dihayatinya.
Dengan demikian, sebuah karya sastra tidak pernah berangkat dari kekosongan sosial. Artinya karya sastra ditulis berdasarkan kehidupan sosial masyarakat tertentu dan menceritakan kebudayaan-kebudayaan yang melatarbelakanginya. Berangkat dari uraian tersebut, dalam tulisan ini akan diuraikan pengertian Sosiologi Sastra sebagai Pendekatan dalam Menganalisis Karya Sastra dan contoh penerapan dalam menganalisis karya sastra tersebut.

B.    Batasan Masalah

     Dalam makalah ini kami membatasi pembahasan mengenaipengertian sosiologi sastra serta penerapannya dalam menganalisis karya sastra.

C.    Rumusan Masalah
Apakah yang dimaksud dengan sosiologi sastra dan bagaimana penerapannya dalam menganalisis sebuah karya sastra?
D.    Tujuan Penulisan

Untuk menjelaskan pengertian sosiologi sastra dan penerapannya dalam menganalisis sebuah karya sastra.



E.     Manfaat Penulisan

Melalui makalah ini diharapkan pembaca dapat mengetahui pengertian sosiologi sastra dan dapat menggunakan pendekatan tersebut dalam menganalisis sebuah karya sastra.


















BAB II
PEMBAHASAN

A.     Sosiologi Sastra sebagai Pendekatan dalam Menganalisis Karya Sastra
Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari kata sos (Yunani) yang berarti bersama, bersatu, kawan, teman, dan logi (logos) berarti sabda, perkataan, perumpamaan. Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana. Merujuk dari definisi tersebut, keduanya memiliki objek yang sama yaitu manusia dan masyarakat. Meskipun demikian, hakikat sosiologi dan sastra sangat berbeda bahkan bertentangan secara dianetral.Sosiologi adalah ilmu objektif kategoris, membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini (das sain) bukan apa yang seharusnya terjadi (das solen). Sebaliknya karya sastra bersifat evaluatif, subjektif, dan imajinatif.
Menurut Ratna (2003: 2) ada sejumlah definisi mengenai sosiologi sastra yang perlu dipertimbangkan dalam rangka menemukan objektivitas hubungan antara karya sastra dengan masyarakat, antara lain :
1.    Pemahaman terhadap karya sastra dengan pertimbangan aspek kemasyarakatannya
2.    Pemahaman terhadap totalitas karya yang disertai dengan aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya.
3.    Pemahaman terhadap karya sastra sekaligus hubungannya dengan masyarakatyang melatarbelakangi.
4.    Sosiologi sastra adalah hubungan dua arah (dialektik) anatara sastra denganmasyarakat, dan
5.    Sosiologi sastra berusaha menemukan kualits interdependensi antara sastra dengan masyarakat.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi sastra tidak terlepas dari manusia dan masyarakat yang bertumpu pada karya sastra sebagai objek yang dibicarakan. 
Sosiologi sebagai suatu pendekatan terhadap karya sastra yang masih mempertimbangkan karya sastra dan segi-segi sosial Wellek dan Warren (1956: 84, 1990: 111) membagi sosiologi sastra sebagai berikut.
1.    Sosiologi pengarang, profesi pengarang, dan istitusi sastra, masalah yang berkaitan di sini adalah dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial status pengarang, dan idiologi pengarang yang terlibat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra, karena setiap pengarang adalah warga masyarakat, ia dapat dipelajari sebagai makhluk sosial. Biografi pengarang adalah sumber utama, tetapi studi ini juga dapat meluas ke lingkungan tempat tinggal dan berasal. Dalam hal ini, informasi tentang latar belakang keluarga, atau posisi ekonomi pengarang akan memiliki peran dalam pengungkapan masalah sosiologi pengarang (Wellek dan Warren,1990:112)
2.     Sosiologi karya sastra yang memasalahkan karya sastra itu sendiri yang menjadi pokok penelaahannya atau apa yang tersirat dalam karya sastra dan apa yang menjadi tujuannya. Pendekatan yang umum dilakukan sosiologi ini mempelajari sastra sebagai dokumen sosial sebagai potret kenyataan sosial. (Wellek dan Warren, 1990:122). Beranggapan dengan berdasarkan pada penelitian Thomas Warton (penyusun sejarah puisi Inggris yang pertama) bahwa sastra mempunyai kemampuan merekam ciri-ciri zamannya. Bagi Warton dan para pengikutnya sastra adalah gudang adat-istiadat, buku sumber sejarah peradaban.
3.     Sosiologi sastra yang memasalahkan pembaca dan dampak sosial karya sastra, pengarang dipengaruhi dan mempengaruhi masyarakat; seni tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga membentuknya. Banyak orang meniru gaya hidup tokoh-tokoh dunia rekaan dan diterapkan dalam kehidupannya.
Klasifikasi Wellek dan Warren sejalan dengan klasifikasi Ian Watt (dalam Damono, 1989: 3-4) yang meliputi hal-hal berikut.
1.    Konteks sosial pengarang, dalam hal ini ada kaitannya dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakat, dan kaitannya dengan masyarakat pembaca termasuk juga faktor-faktor sosial yang dapat mempengaruhi karya sastranya, yang terutama harus diteliti yang berkaitan dengan : (a) bagaimana pengarang mendapat mata pencahariannya, apakah ia mendapatkan dari pengayoman masyarakat secara langsung, atau pekerjaan yang lainnya, (b) profesionalisme dalam kepengaragannya, dan (c) masyarakat apa yang dituju oleh pengarang.
2.    Sastra sebagai cermin masyarakat, maksudnya seberapa jauh sastra dapat dianggap carmin keadaan masyarakat. Pengertian “cermin” dalam hal ini masih kabur, karena itu, banyak disalahtafsirkan dan disalahgunakan.
Yang harus diperhatikan dalam klasifikasi sastra sebagai cermin masyarakat adalah (a) sastra mungkin tidak dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada waktu ditulis, sebab banyak ciri-ciri masyarakat ditampilkan dalam karya itu sudah tidak berlaku lagi pada waktu ia ditulis, (b) sifat “lain dari yang lain” seorang pengarang sering mempengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya, (c) genre sastra sering merupakan sikap sosial suatu kelompok tertentu, dan bukan sikap sosial seluruh mayarakat, (d) sastra yang berusaha untuk menampilkan keadaan masyarakat secermat-cermatnya mungkin saja tidak dapat dipercaya sebagai cermin masyarakat. Sebaliknya, sastra yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggambarkan masyarakat mungkin masih dapat digunakan sebagai bahan untuk mendapatkan informasi tentang masyarakat tertentu. Dengan demikian, pandangan sosial pengarang diperhitungkan jika peneliti karya sastra sebagai cermin masyarakat.
Fungsi sosial sastra, maksudnya seberapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai-nilai sosial.
 Dalam hubungan ini ada tiga hal yang harus diperhatikan (1) sudut pandang ekstrim kaum Romantik yang menganggap sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi. Karena itu, sastra harus berfungsi sebagai pengbaharu dan perombak, (2) sastra sebagai penghibur saja, dan (3) sastra harus mengajarkan sesuatu dengan cara menghibur. Dalam bukunya A Glossary of Literature Term. Abrams menulis bahwa dari sosiologi sastra ada tiga perhatian yang dapat dilakukan oleh kritikus atau peneliti yaitu:
1. Penulis dengan lingkungan budaya tempat ia tinggal.
2. Karya, dengan kondisi sosial yang direfleksikan di dalamnya.
3. Audien atau pembaca (1981: 178).
Lain halnya dengan Grebsten (dalam Damono, 1989) dalam bukunya mengungkapkan istilah pendekatan sosiologi kultural terhadap sastra dengan kesimpulan sebagai berikut
1.    Karya sastra tidak dapat dipahami secara lengkap apabila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan atau peradaban yang telah menghasilkannya. Ia harus dipelajari dalam konteks yang seluas-luasnya dan tidak hanya dirinya sendiri. Setiap karya sastra adalah hasil dari pengaruh timbal-balik yang rumit dari faktor-faktor sosial dan kultural. Karya sastra itu sendiri merupakan objek kultural yang rumit. Bagimanapun karya sastra bukanlah suatu gejala yang tersendiri.
2.     Gagasan yang ada dalam karya sastra sama pentingnya dengan bentuk dan teknik penulisannya, bahkan boleh dikatakan bahwa bentuk dan teknik itu ditentukan oleh gagasan tersebut. Tak ada karya sastra yang besar yang diciptakan berdasarkan gagasan sepele dan dangkal; dalam pengertian ini sastra adalah kegiatan yang sungguh-sungguh.
3.     Setiap karya sastra yang bisa bertahan lama pada hakikatnya adalah suatu moral, baik dalam hubungannya dengan kebudayaan sumbernya maupun dalam hubungannya dengan orang per orang. Karya sastra bukan merupakan moral dalam arti yang sempit, yaitu yang sesuai dengan suatu kode atau tindak tanduk tertentu, melainkan dalam pengertian bahwa ia terlibat di dalam kehidupan dan menampilkan tanggapan evaluatif terhadapnya. Dengan demikian sastra adalah eksprimen moral. 
4.     Masyarakat dapat mendekati karya sastra dari dua arah. Pertama, sebagai sesuatu kekuatan atau faktor material, istimewa, dan kedua, sebagai tradisi yakni kecenderungan spiritual kultural yang bersifat kolektif. Dengan demikian bentuk dan isi karya sastra dapat mencerminkan perkembangan sosiologi, atau menunjukkan perubahan-perubahan yang halus dalam watak kultural.
5.     Kritik sastra seharusnya lebih dari sekedar perenungan estetis yang tampa pamrih ia harus melibatkan diri dalam suatu tujuan tertentu. Kritik adalah kegiatan yang terpenting yang harus mampu mempengaruhi penciptaaan sastra tidak dengan cara mendikte sastrawan agar memilih tema tertentu misalnya, melainkan dengan menciptakan iklim tertentu yang bermanfaat bagi penciptaan seni besar.
6.     Kritikus bertanggung jawab baik kepada sastra masa silam maupun sastra masa depan. Dari sumber sastra yang sangat luas itu kritikus harus memilih yang sesuai untuk masa kini. Perhatiannya bukanlah seperti pengumpul benda-benda kuno yang kerjanya hanya menyusun kembali, tetapi memberi penafsiran seperti yang dibutuhkan oleh masa kini. Dan karena setiap generasi membutuhkan pilihan yang berbeda-beda, tugas kritikus untuk menggali masa lalu tak ada habisnya.
Lanjut Damono (1989: 14) mengemukakan bahwa segala yang ada di dunia ini sebenarnya merupakan tiruan dari kenyataan tertinggi yang berada di dunia gagasan. Seniman hanyalah meniru apa yang ada dalam kenyataan dan hasilnya bukan suatu kenyataan. Pandangan senada dikemukakan oleh Teeuw (1984- 220) mengatakan bahwa dunia empirek tak mewakili dunia sesungguhnya, hanya dapat mendekatinya lewat mimesis, penelaahan, dan pembayangan ataupun peniruan. Lewat mimesis, penelaahan kenyataan mengungkapkan makna, hakikat kenyataan itu. Oleh karena itu, seni yang baik harus truthful berani dan seniman harus bersifat modest, rendah hati. Seniman harus menyadari bahwa lewat seni dia hanya dapat mendekati yang ideal.
            Endraswara dalam bukunya Metodologi Pengajaran Sastra, memberi pengertian bahwa sosiologi sastra adalah penelitian yang terfokus pada masalah manusia karena sastra sering mengungkapkan perjuangan umat manusia dalam menentukan masa depannya, berdasarkan imajinasi, perasaan, dan intuisi (2003: 79). Sementara, Faruk (1994: 1) memberi pngertian bahwa sosiologi sastra sebagai studi ilmiah dan objektf mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga dan proses-proses sosila. Selanjutnya, dikatakan bahwa sosiologi berusaha menjawab pertanyaan mengenai bagaimana masyarakat dimungkinkan, bagaimana cara kerjanya, dan mengapa masyarakat itu bertahan hidup.
Lewat penelitian mengenai lembaga-lembaga sosial, agama, ekonomi, politik dan keluarga yang secara bersama-sama membentuk apa yang disebut sebagai struktur sosial, agama, ekonomi, politik, dan keluarga yang secara bersama-sama membentuk apa yang disebut sebagai struktur sosial, sosiologi dikatakan memperoleh gambaran mengenai cara-cara menyesuaikan dirinya dengan dan ditentukan oleh masyarakat-masyarakat tertentu, gambaran mengenai mekanisme sosialitas, proses belajar secara kultural yang dengannya individu-individu dialokasikannya pada dan menerima peranan tertentu dalam struktur sosial itu.
Sosiologi sastra memiliki perkembangan yang cukup pesat sejak penelitian-penelitian yang menggunakan teori strukturalisme dianggap mengalami stagnasi. Didorong oleh adanya kesadaran bahwa karya sastra harus difungsikan sama dengan aspek-aspek kebudayaan yang lain, maka karya sastra harus dipahami sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan sistem komunikasi secara keseluruhan.
Menurut Ratna (2003: 332) ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan mengapa sastra memiliki kaitan erat dengan masyarakat dan dengan demikian harus diteliti dalam kaitannya dengan masyarakat, sebagai berikut.
1.    Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin, ketiganya adalah anggota masyarakat.
2.     Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat yang pada gilirannya juga difungsikan oleh masyarakat.
3.     Medium karya sastra baik lisan maupun tulisan dipinjam melalui kompetensi masyarakat yang dengan sendirinya telah mengandung masalah kemasyarakatan.
4.     Berbeda denga ilmu pengetahuan, agama, dan adat-istiadat dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetik, etika, bahkan juga logika. Masyarakat jelas sangat berkepentigan terhadap ketiga aspek tersebut.
5.     Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa sosiologi sastra dapat meneliti melalui tiga perspektif, pertama, perspektif teks sastra, artinya peneliti menganalisisnya sebagai sebuah refleksi kehidupan masyarakat dan sebaliknya. Kedua, persepektif biologis yaitu peneliti menganalisis dari sisi pengarang. Perspektif ini akan berhubungan dengan kehidupan pengarang dan latar kehidupan sosial, budayanya. Ketiga, perspektif reseptif, yaitu peneliti menganalisis penerimaan masyarakat terhadap teks sastra.
Sosiologi karya sastra itu sendiri lebih memperoleh tempat dalam penelitian sastra karena sumber-sumber yang dijadikan acuan mencari keterkaitan antara permasalahan dalam karya sastra dengan permasalahan dengan masyarakat lebih mudah diperoleh. Di samping itu, permasalahan yang diangkat dalam karya sastra biasanya masih relevan dalam kehidupan masyarakat. Sastra dapat dikatakan sebagai cermin masyarakat, atau diasumsikan sebagai salinan kehidupan, tidak berarti struktur masyarakat seluruhnya dapat tergambar dalam sastra. Yang didapat di dalamnya adalah gambaran masalah masyarakat secara umum ditinjau dari sudut lingkungan tertentu yang terbatas dan berperan sebagai mikrokosmos sosial. Seperti lingkungan bangsawan, penguasa, gelandangan, rakyat jelata, dan sebagainya.
Perkembangan sosiologi sastra modern tidak terlepas dari Hippolyte Taine, seorang ahli sosiologi sastra modern yang pertama membicarakan latar belakang timbulnya karya sastra besar, menurutnya ada tiga faktor yang mempengaruhi, yaitu ras, saat, dan lingkungan (Abrams, 1981: 178).
 Hubungan timbal-balik antara ras, saat, dan lingkungan inilah yang menghasilkan struktur mental pengarang yang selanjutnya diwujudkan dalam karya sastra. Taine, menuruskan bahwa sosiologi sastra ilmiah apabila menggunakan prinsip-prinsip penelitian seperti ilmu pasti, hukum. Karya sastra adalah fakta yang multi-interpretable tentu kadar “kepastian” tidak sebanding dengan ilmu pasti. Yang penting peneliti sosiologi karya sastra hendaknya mampu mengungkapkan hal ras, saat, dan lingkungan.Berkaitan dengan sosiologi sastra sebagai kajian Eagleton (1983), mengemukakan bahwa sosiologi sastra menonjol dilakukan oleh kaum Marxisme yang mengemukakan bahwa sastra adalah refleksi masyarakat yang dipengaruhi oleh kondisi sejarah. Sastra karenanya, merupakan suatu refleksi llingkungan budaya dan merupakan suatu teks dialektik antara pengarang. Situasi sosial yang membentuknya atau merupakan penjelasan suatu sejarah dialektik yang dikembangkan dalam karya sastra.
Sebagaimana yang dikemukakan Damono, Swingewood (1972: 15) pun mengingatkan bahwa dalam melakukan analisis sosiologi terhadap karya sastra, kritikus harus berhati-hati dengan slogan “sastra adalah cermin masyarakat’’. Hal ini melupakan pengarang, kesadaran, dan tujuannya. Dalam melukiskan kenyataan, selain melalui refleksi, sebagai cermin, juga dengan cara refleksi sebagai jalan belok. Seniman tidak semata melukiskan keadaan sesungguhnya, tetapi mengubah sedemikian rupa kualitas kreativitasnya. Dalam hubungan ini Teeuw (1984: 18-26) mengemukakan ada empat cara yang mungkin dilalui, yaitu (a) afirmasi ( merupakan norma yang sudah ada, (b) restorasi ( sebagai ungkapan kerinduan pada norma yang sudah usang), (c) negasi (dengan mengadakan pemberontakan terhadap norma yang sedang beralaku, (d) inovasi (dengan mengadakan pembaharuan terhadap norma yang ada).
 Berkenaan dengan kaitan antara sosiologi dan sastra tampaknya Swingewood (1972: 15) mempunyai cara pandang bahwa suatu jagad yang merupakan tumpuan kecemasan, harapan, dan aspirasi manusia, karena di samping sebagai makhluk sosial budaya akan sangat sarat termuat dalam karya sastra. Hal inilah yang menjadi bahan kajian dalam telaah sosiologi sastra.





B.    Penerapan Pendekatan Sosiologis dalam Menganalisis Sebuah  Karya Sastra

Pengkajiansastradapatmemahamidanmenelaahkaryasastradarisosiologipengarang,sosiologikarya,dansosiologipembaca.Melaluisosiologipengarangmisalnyaakandikaji novel. PramoedyaAnantaToerBumiManusiadenganhubungandenganlatarsosialpengarang yang berasaldariBlorasebuahkota di perbatasanJawa Tengah danJawaTimur. Iaanaksulungdarisembilanbersaudara. Ayahnyaadalahnasionalistulen yang sebelumperangikutdalamberbagaikegiatan, tetapisecarapolitiktidaktergolongsayapkiri.Gelarbangsawan “Mas” iacoretdarinamanya, hingga Pram kecilbertahun-tahunkemudianmasihmelihatcoretan di awalpapannama di rumah orang tuanya. Contohpenerapansosiologikaryasastradalamhubungannyadenganmasalahsosialadalahpengkajian novel BumiManusiadenganmengaitkannyadenganrealitaskehidupan yang terjadidalammasyarakat.
Novel tersebutdipahamidalamhubungannyadenganmasalahlatarceritahukumBelandadanhubunganantarapribumidan orang Belanda yang memilikihubunganbersekatantaratuankelasatasdankaumrendahan. Sejarahmencatatkaumpribumiberadapadabawah.bahkandibawahCinasecarahubunganhirarkidalamsejarahkekuasaanBelanda. Novel inimembuatpembacamengertihubunganNyai yang bukanlahseorangMeufrowataunyonya.Hukumbelanda yang takberpihakkaumpribumi.Sampaiposisikaumterdidik yang tetaptaksamadengankamuterdidikdariketurunanBelanda. Ceritainimenggambarkankeadaanstruktursosial, ekonomidanbudayapadajamannya.setiapmanusiamenempatiposisinyamasing-masing. Sebagaibuktistruktursosialberlakusampaisekarang
Selanjutnya, penerapansosiologipembacaBumiManusiasebagaikaryasastra yang tergolongbanyakdibacadanditanggapimasyarakat.Walaupunmotivasiparapembacadalammembaca novel tersebutmungkinbermacam-macam, misalnyaada yang menganggapnyasebagaihiburan belaka.Ada yang tertarikkarenaceritanyatentangkehidupanseorangnyai yang kuat, prinsif, danobjektif.Hal inijugadidukungolehfaktabahwaBukuiniditulisPramoedyaAnantaToerketikamasihmendekam di Pulau Buru.Sebelumditulispadatahun 1975, sejaktahun 1973 terlebihdahulutelahdiceritakanulangkepadateman-temannya.Setelahditerbitkan, BumiManusiakemudiandilarangberedarsetahunkemudianatasperintahJaksaAgung. Sebelumdilarang, bukuinisuksesdengan 10 kali cetakulangdalamsetahunpada 1980-1981.Sampaitahun 2005, bukuinitelahditerbitkandalam 33 bahasa.
Pada September 2005, bukuiniditerbitkankembali di Indonesia olehLenteraDipantara.Bukuinimelingkupimasakejadianantaratahun 1898 hinggatahun 1918, masainiadalahmasamunculnyapemikiranpolitiketisdanmasaawalperiodeKebangkitanNasional. MasainijugamenjadiawalmasuknyapemikiranrasionalkeHindiaBelanda, masaawalpertumbuhanorganisasi-organisasi modern yang jugamerupakanawalkelahirandemokrasipolaRevolusiPerancis.







BAB III
PENUTUP

A.     Interpretasi

Pendekatansosiologisastramenaruhperhatianpadaaspekdokumentersastra, denganlandasansuatupandanganbahwasastramerupakangambaranataupotretfenomenasosial.Padahakikatnya, fenomenasosialitubersifatkonkret, terjadi di sekelilingkitasehari-hari, bisadiobservasi, difoto, dandidokumentasikan.Olehpengarang, fenomenaitudiangkatkembalimenjadiwacanabarudengan proses kreatif (pengamatan, analisis, interpretasi, refleksi, imajinasi, evaluasi, dansebagainya) dalambentukkaryasastra.
Pengarangmerupakananggota yang hidupdanberhubungandengan orang- orang yang beradadisekitarnya, makadalam proses penciptaankaryasastraseorangpengarangtidakterlepasdaripengaruhlingkungannya. Olehkarenaitu,karyasastra yang lahirditengah-tengahmasyarakatmerupakanhasilpengungkapanjiwapengarangtentangkehidupan, peristiwa, sertapengalamanhidup yang telahdihayatinya.Dengandemikian, sebuah karyasastratidakpernahberangkatdarikekosongansosial.Artinyakaryasastraditulisberdasarkankehidupansosialmasyarakattertentudanmenceritakankebudayaan-kebudayaan yang melatarbelakanginya.

B.    Kesimpulan

Perkembangansosiologisastramerupakanperkembangandaripendekatanmimetik yang memahamikaryasastradalamhubungannyadenganrealitasdanaspeksosialkemasyarakatan.Sebagaisalahsatupendekatandalamkritiksastra, sosiologisastradapatmengacupadacaramemahamidanmenilaisastra yang mempertimbangkansegi-segikemasyarakatan (sosial).
C.    Saran

Sastramenyajikangambarankehidupan, dankehidupanitusendirisebagianbesarterdiridarikenyataansosial.Dalampengertianini, kehidupanmencakuphubunganantarmasyarakatdengan orang-orang, antarmanusia, antarperistiwa yang terjadidalambatinseseorang. Maka, memandangkaryasastrasebagaipenggambaranduniadankehidupanmanusia, kriteriautama yang dikenakanpadakaryasastraadalah “kebenaran” penggambaran, atau yang hendakdigambarkan. Oleh sebab itu, menganalisis karya sastra melalui pendekatan sosiologi dapat mengantar kita kepada pemahaman mendalam terhadap suatu karya sastra tersebut.












 DAFTAR PUSTAKA

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.











SOSIOLOGI SASTRA SEBAGAI PENDEKATAN DALAM MENGANALISIS KARYA SASTRA
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas perkuliahan Telaah Prosa
Yang dibina oleh Dr. Abdurahman, M.Pd.
KELOMPOK 1

ARFIKA DIANA                    18175/2010
ISRAK AL QADRI                18145/2010
INONG ELISTIA                   54445/2010
BOY ARYA PUTRA             18149/2010
RAHMAT FEBRIMA                        18167/2010

Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Padang
2012

SOSIOLOGI SASTRA SEBAGAI PENDEKATAN DALAM MENGANALISIS KARYA SASTRA
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas perkuliahan Telaah Prosa
Yang dibina oleh Dr. Abdurahman, M.Pd.

KELOMPOK 6
Cici Frandila Sari/ 15715
Desi Resmita/15705
Dewi Firmadani/15699
Era Susanti/17323


Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Padang
2012